saya adalah pemula yang benar-benar awam mengenai motor antik alias jadul! Itulah yang saya sadari akhir-akhir ini setelah melakukan komunikasi dengan orang-orang yang bisa dikatakan senior dalam dunia hobi motor antik.
Apa yang saya ketahui tentang seluk beluk motor antik cuma seujung kuku mereka,apalagi setelah beberapa waktu lalu saya secara tidak sengaja memiliki sepeda ontel merk Mister yang saya beli cuma karena saya tertarik dengan per sadelnya yang unik.
Dunia sepeda antik menjadi kegemaran saya yang baru setelah sebelumnya saya sangat antusias berburu pernik motor antik sekarang saya mulai menggali lebih dalam tentang sejarah ontel yang ternyata sangat menarik dan bermanfaat mengingat sepeda adalah cikal-bakal dari sepeda motor.
Dari kopian buku berjudul Pit Onthel yang dikirimkan Bang Muhdie COC ke Ale Teqi (makasih bukunya Bang!OK banget) yang kemudian saya kopi lagi untuk dikoleksi sangat banyak sejarah yang bisa digali mengenai alat transportasi ini.
Tentang Romo Belanda yang low profile, tentang betapa pentingnya sepeda pada jaman dulu, dsb.
Di luar dari isi buku berharga tersebut bahkan saya pernah menjumpai seorang kakek tua yang berjualan makanan kecil dengan wadah yang ditempatkan sedemikian rupa pada boncengan di sepeda bututnya. Sepeda tersebut hanya digiring tanpa pernah dinaiki.Ternyata orang tersebut (menurut pengakuan teman saya) tidak bisa naik sepeda!!
Mungkin menurut kakek tersebut barang dagangan yang dijajakan akan lebih ringan apabila menggunakan sepeda meskipun kakek itu sendiri tidak bisa menaikinya.
Mungkin ada kisah dibalik sepeda yang tidak pernah dinaiki tersebut?
Mungkin setiap orang yang melihat, memperhatikan atau berpapasan dengan kakek tersebut kebetulan tidak pernah beruntung bisa menyaksikan beliau menaiki sepedanya?
Yang tak kalah mengagumkan bagi saya adalah seorang penjual koran/majalah yang setia menggunakan sepeda sejak saya masih duduk di bangku SD.
Berarti 20 tahun sudah beliau menggunakan kedua kakinya untuk mencari nafkah diatas sadel sepeda.
20 tahun sudah saya perhatikan tidak ada yang berubah dari beliau. Seakan-akan Yang Maha Kuasa menghentikan regenerasi sel beliau sehingga selalu terlihat sama seperti 20 tahun lalu tanpa pernah menua kecuali sepeda yang beliau gunakan akhirnya tergantikan oleh sepeda keluaran baru (yang kabarnya adalah hadiah dari Bupati setempat).
Begitulah yang saya sadari... di saat peradaban semakin maju dengan perkembangan teknologi yang tak terbendung, anak-anak muda mulai malu untuk naik sepeda. Mereka lebih memilih motor atau mobil (bagi yang mampu) keluaran baru yang sangat mudah dibeli secara tunai atau kredit. Mereka lebih memilih melupakan sejarah yang telah melahirkan mereka melalui proses evolusi panjang.
Saya penasaran bagaimana apabila sebuah motor antik atau seonggok bangkai sepeda tua ternyata menyimpan sejarah yang tak ternilai?
Entah sejarah mengenai perjuangan bangsa kita meraih kemerdekaan atau sekadar sejarah percintaan dua sosok manusia, tetap saja semuanya merupakan sejarah yang benar-benar tak ternilai harganya.
Saya berharap semoga saja koleksi yang saya miliki saat ini mengandung sejarah yang bisa saya gali dan saya pelajari.
Semoga saja koleksi barang antik yang kita miliki tak pernah hancur dimakan usia
Semoga anak cucu kita bisa meneruskan apa yang telah kita geluti selama ini meskipun bagi orang lain merupakan hal yang tidak berguna.
Salut untuk para penggemar sepeda tua, para penggemar motor antik, para penggemar mobil antik, para penggemar benda-benda antik lainnya.
Kita harus berjuang mengabadikan sejarah.